Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Juni 2015

Jessica Cox, Pilot Pertama Tanpa Lengan

Jessica Cox menjadi teladan bagi kita untuk pantang menyerah. Walau dilahirkan cacat, ia tercatat di Guinness Book of Record sebagai orang pertama punya lisensi pilot tanpa lengan. 

Dilahirkan pada 2 Februari 1983 tanpa lengan karena kelainan saat ia di kandungan ibunya atau disebut kelainan bawaan. Kelainan bawaan, atau penyakit bawaan, adalah kondisi yang ada saat lahir dan sering sebelum kelahiran, atau yang berkembang selama bulan pertama kehidupan (penyakit neonatal), terlepas dari sebab-akibat. Penyakit ini, yang ditandai dengan kelainan struktural yang disebut “anomali kongenital” dan melibatkan kecacatan atau kerusakan pada janin yang sedang berkembang. Saat Jessica lahir, dokter yang menolong persalinan mengingatkan kedua orangtuanya bahwa ia tak akan menjalani hidup layaknya orang normal.

Tak Ada Alasan untuk Menyerah

Jessica Cox memiliki hak untuk marah. Alam bisa dikatakan menipunya. Teman-teman masa kecil mengejeknya. Masyarakat menjauhinya. Jika ia lahir di negara dunia ke-3, kemungkinan ia bakal dikutuk atau dibuang sebagai sampah. Dia punya hak untuk mengatakan, “Persetan dunia, kamu berutang padaku!”

Tapi ia tidak mau terus menerus menjadi korban dan berkubang mengasihani diri. Ia menerima, memeluk, mengatasi, dan menguasai kondisinya. Akibat tak memiliki lengan, Jessica berusaha mengembangkan kemampuan jari-jari kakinya seperti layaknya jari tangan. Jemari kakinya itu bisa melakukan semua hal yang dilakukan tangan, seperti untuk berdandan, bermain piano, mengemudikan mobil, hingga mengirim SMS.

Jadi, “cacat” menjadi kata yang kurang tepat bagi dia, karena sarjana psikologi dari Universitas Arizona ini punya kemampuan melampaui kebanyakan orang. Dengan menemukan potensi tampaknya tak terbatas sendiri. Dan, dia sekarang menjangkau orang lain seperti dia, untuk mengajarkan bahwa cacat hanya kulit luarnya saja; kemampuan sejati terletak dalam. Dengan demikian, ia telah menantang dunia yang apatis. Bahkan  ia telah membantu memperkenalkan RUU untuk PBB yang berjudul, “Konvensi Hak Penyandang Disabilitas.”

Saat diwawancarai di kediamannya di Arizona, AS, Jessica mengakui keterbatasan fisik yang dimilikinya memang membuat kehidupan tak selalu berjalan mudah baginya.“Saat tumbuh besar, saya merasa seperti tinggal di alam lain. Sebab, semua yang bagi orang lain adalah hal alami, bagi saya menjadi hal yang sangat sulit untuk dipelajari,” ia mengenang.

“Namun, sejak saya menerima keunikan tubuh saya, maka saya menyadari hidup saya bukanlah hidup yang biasa, tetapi hidup yang luar biasa,” ujar Jessica yang baru saja menikahi seorang pelatih karate itu.

“Untuk waktu yang sangat lama, ibu menyalahkan diri sendiri atas kondisi fisik saya. Dia berpikir telah melakukan hal yang salah saat mengandung,” kata Jessica. “Kakak saya Jason, lahir sempurna. Kondisi saya sangat langka, menurut dokter hanya terjadi pada satu dari satu juta bayi,” tambah dia.

Kondisi itu, lanjut Jessica, yang membuat kedua orangtuanya, Inez dan Bill, sangat terpukul.

“Bagaimana saya akan makan? Bagaimana saya bermain dengan anak-anak lain? Atau bagaimana saya bisa menikah? Itu adalah semua pertanyaan orangtua saya,” ujarnya.


Namun, ternyata pertumbuhan Jessica ternyata justru jauh lebih cepat ketimbang bayi normal. Pada usia lima bulan dia sudah duduk dan “merayap” menggunakan pantatnya. Dalam usia 18 bulan dia bahkan sudah bisa berdiri dan berjalan tanpa bantuan.


Kepercayaan dirinya meningkat saat di usia empat tahun, guru menarinya menyuruhnya untuk berada di baris terdepan saat tampil dalam resital pertamanya. “Saat itu, saya tak ingin ditertawakan. Namun, guru saya mengatakan 'Jessica tak ada barisan belakang (di panggung), kamu harus berada di depan bersama teman lainnya'. Pelajaran itu membekas di hati saya hingga sekarang,” lanjut dia.

Menembus Batas

Hidupnya kemudian menjadi makin mudah untuk Jessica. Dia terus menggunakan kedua kakinya untuk berbagai kegiatan, seperti menggosok gigi, makan, menyisir rambut, dan menulis. Awalnya, orangtua Jessica memutuskan putri mereka mengenakan lengan palsu saat dia berusia empat tahun. Namun, “Memakai lengan palsu malah membuat saya jadi bahan ejekan. Beberapa anak memanggil saya Kapten Hook. Selain itu, tangan palsu itu sangat berat,” kata perempuan keturunan Filipina ini. Meski dengan lengan palsu ia lebih mudah membuka pintu, membawa tas, dan pekerjaan lainnya, tetapi setibanya di rumah, Jessica selalu melepas kedua lengan palsunya itu dan lebih memilih menggunakan kakinya.

“Saya hidup dengan normal, saya hanya harus melatih kaki dan jari-jari kaki saya untuk menggantikan fungsi tangan,” lanjut Jessica yang akhirnya memutuskan untuk tidak pernah menggunakan tangan palsu lagi. Ternyata, tanpa lengan palsu Jessica malah makin tak terbendung. Dalam usia 14 tahun dia sudah meraih sabuk hitam karate, usia 15 dia berkompetisi renang, dan pada usia 26 tahun Jessica mulai belajar berselancar.

Pada 2005, Jessica mulai belajar menjadi pilot. Dia kini memiliki lisensi menerbangkan pesawat ringan untuk ketinggian hingga 3.050 meter pada 10 Oktober 2008 setelah menjalani tiga tahun masa pelatihan. Sama seperti menyetir mobil dan melakukan berbagai kegiatan lain, Jessica menggunakan kedua kakinya sebagai pengganti fungsi tangan. “Terbang adalah salah satu kegiatan yang membuat saya merasa benar-benar bebas dan bangga terhadap diri saya sendiri. Saya membuktikan semua bisa terwujud jika kita yakin terhadap diri sendiri,” kata Jessica.

Pada tahun 2012, ia menikah dengan Patrick Chamberlain, mantan instruktur Taekwondo yang melatih dirinya selama beberapa tahun hingga mendapatkan dua sabuk hitam.

Jessica juga dinobatkan sebagai salah satu dari "10 Pilot Terbaik" pada tahun 2013 versi  majalah Plane and Pilot.

Jessica juga berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana di University of Arizona dalam bidang psikologi. Karena segudang prestasi di balik kekurangannya ini, tidak heran selama beberapa tahun terakhir Jessica menjadi pembicara motivator di puluhan negara.

“Semua bisa dilakukan asalkan kita percaya pada diri kita sendiri,” itulah petuah yang selalu dipegang teguh Jessica Cox.

Semoga bisa menjadi inspirasi dan motivasi untuk kita semua. Tidak ada hal yang tidak bisa kita raih kecuali melalui kesungguhan, ketekunan, keuletan dan kerja keras.

(wikipedia.org/rightfooted.com/telegraph.co.uk)

Jumat, 19 Juni 2015

B.J. Habibie, Pencetus Rumus Keretakan Pesawat Terbang


Salah satu tokoh panutan dan menjadi kebanggaan bagi banyak orang di Indonesia dan juga Presiden ketiga Republik Indonesia, dialah Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie dilahirkan di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada tanggal 25 Juni 1936.

Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal. Masa kecil Habibie dilalui bersama saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi Selatan.

Sifat tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan Habibie sejak kanak-kanak. Habibie yang punya kegemaran menunggang kuda dan membaca ini dikenal sangat cerdas ketika masih menduduki sekolah dasar, namun ia harus kehilangan bapaknya yang meninggal dunia pada 3 September 1950 karena terkena serangan jantung saat ia sedang shalat Isya.

Tak lama setelah ayahnya meninggal, Ibunya kemudian menjual rumah dan kendaraannya dan pindah ke Bandung bersama Habibie, sepeninggal ayahnya, ibunya membanting tulang membiayai kehidupan anak-anaknya terutama Habibie, karena kemauan untuk belajar Habibie kemudian menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Di SMA, beliau mulai tampak menonjol prestasinya, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta. Habibie menjadi sosok favorit di sekolahnya.

Karena kecerdasannya, Setelah tamat SMA di bandung tahun 1954, beliau masuk di ITB (Institut Teknologi Bandung). Ia tidak sampai selesai disana karena beliau mendapatkan beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan kuliahnya di Jerman.

Mengingat pesan Bung Karno tentang pentingnya Dirgantara dan penerbangan bagi Indonesia maka ia memilih jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi Konstruksi pesawat terbang di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH).Ketika sampai di Jerman, beliau sudah bertekad untuk sunguh-sungguh dirantau dan harus sukses, dengan mengingat jerih payah ibunya yang membiayai kuliah dan kehidupannya sehari-hari.

Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1955 di Aachean, 99% mahasiswa Indonesia yang belajar di sana diberikan beasiswa penuh. Hanya beliaulah yang memiliki paspor hijau atau swasta dari pada teman-temannya yang lain. Musim liburan bukan liburan bagi beliau melainkan kesempatan emas yang harus diisi dengan ujian dan mencari uang untuk membeli buku.

Sehabis masa libur, semua kegiatan disampingkan kecuali belajar. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, mereka; lebih banyak menggunakan waktu liburan musim panas untuk bekerja, mencari pengalaman dan uang tanpa mengikuti ujian.

Beliau mendapat gelar Diploma Ing, dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 dengan predikat Cumlaude (Sempurna) dengan nilai rata-rata 9,5, Dengan gelar insinyur, beliau mendaftar diri untuk bekerja di Firma Talbot, sebuah industri kereta api Jerman. Pada saat itu Firma Talbot membutuhkan sebuah wagon yang bervolume besar untuk mengangkut barang-barang yang ringan tapi volumenya besar.

Talbot membutuhkan 1000 wagon. Mendapat persoalan seperti itu, Habibie mencoba mengaplikasikan cara-cara kontruksi membuat sayap pesawat terbang yang ia terapkan pada wagon dan akhirnya berhasil.

Setelah itu beliau kemudian melanjutkan studinya untuk gelar Doktor di Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean kemudian Habibie menikah pada tahun 1962 dengan Hasri Ainun Habibie yang kemudian diboyong ke Jerman.

Hidupnya makin keras, di pagi-pagi sekali Habibie terkadang harus berjalan kaki cepat ke tempat kerjanya yang jauh untuk menghemat kebutuhan hidupnya kemudian pulang pada malam hari dan belajar untuk kuliahnya. Istrinya Nyonya Hasri Ainun Habibie harus mengantri di tempat pencucian umum untuk mencuci baju untuk menghemat kebutuhan hidup keluarga. Pada tahun 1965 Habibie mendapatkan gelar Dr. Ingenieur dengan penilaian summa cumlaude (Sangat sempurna) dengan nilai rata-rata 10 dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean.

Rumus yang di temukan oleh Habibie dinamai “Faktor Habibie” karena bisa menghitung keretakan atau crack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang sehingga ia di juluki sebagai “Mr. Crack”, karena keahliannya menghitung crack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang. Di dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, para ahli dirgantara mengenal apa yang disebut Teori Habibie, Faktor Habibie, Fungsi Habibie.

Sebelum titik crack bisa dideteksi secara dini, para insinyur mengantispasi kemungkinan muncul keretakan konstruksi dengan cara meninggikan faktor keselamatannya (SF). Caranya, meningkatkan kekuatan bahan konstruksi jauh di atas angka kebutuhan teoritisnya.

Akibatnya, material yang diperlukan lebih berat. Untuk pesawat terbang, material aluminium dikombinasikan dengan baja. Namun setelah titik crack bisa dihitung maka derajat SF bisa diturunkan. Misalnya dengan memilih campuran material sayap dan badan pesawat yang lebih ringan. Porsi baja dikurangi, aluminium makin dominan dalam bodi pesawat terbang. Dalam dunia penerbangan, terobosan ini tersohor dengan sebutan Faktor Habibie.

Faktor Habibie bisa meringankan operating empty weight (bobot pesawat tanpa berat penumpang dan bahan bakar) hingga 10 persen dari bobot sebelumnya. Bahkan angka penurunan ini bisa mencapai 25 persen setelah Habibie menyusupkan material komposit ke dalam tubuh pesawat.

Namun pengurangan berat ini tak membuat maksimum take off weight-nya (total bobot pesawat ditambah penumpang dan bahan bakar) ikut merosot. Dengan begitu, secara umum daya angkut pesawat meningkat dan daya jelajahnya makin jauh. Sehingga secara ekonomi, kinerja pesawat bisa ditingkatkan.

Faktor Habibie ternyata juga berperan dalam pengembangan teknologi penggabungan bagian per bagian kerangka pesawat. Sehingga sambungan badan pesawat yang silinder dengan sisi sayap yang oval mampu menahan tekanan udara saat tubuh pesawat lepas landas. Begitu juga pada sambungan badan pesawat dengan landing gear jauh lebih kokoh, sehingga mampu menahan beban saat pesawat mendarat. Faktor mesin jet yang menjadi penambah potensi fatique menjadi turun.
 
Pada tahun 1967, menjadi Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung dari tempat yang sama tahun 1965. Kejeniusan dan prestasi inilah yang mengantarkan Habibie diakui lembaga internasional di antaranya, Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt (Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar) Jerman, The Royal Aeronautical Society London (Inggris), The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences (Swedia), The Academie Nationale de l’Air et de l’Espace (Prancis) dan The US Academy of Engineering (Amerika Serikat).

Sementara itu penghargaan bergensi yang pernah diraih Habibie di antaranya, Edward Warner Award dan Award von Karman yang hampir setara dengan Hadiah Nobel. Di dalam negeri, Habibie mendapat penghargaan tertinggi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ganesha Praja Manggala Bhakti Kencana.

Sumber  : Artikel Penerbangan & Okezone.com

Senin, 15 Juni 2015

Amelia Earhart, Penerbang Wanita Pertama

Amelia Mary Earhart begitulah nama lengkapnya, Dia dikenal sebagai Penerbang wanita Pertama asal Amerika Serikat yang pertama menyebrangi samudera Atlantik. Amelia Earhart dilahirkan pada tanggal 24 Juli 1897 di Atchison, Kansas Amerika Serikat di rumah kakeknya.

Dia merupakan anak perempuan dari pasangan Edwin dan Amy Earhart. Kakek Amelia Earhart bernama Alfred Otis, dia merupakan presiden Bank Tabungan Atchison, mantan hakim federal, dan tokoh terpandang di Kota Atchison. sebelumnya ia tidak merestui perkawinannya anaknya dengan Edwin ayah dari Amelia Earhart, yang berkerja sebagai seorang pengacara waktu itu, ini juga yang menjadi sebab keluarga Amelia Earhart Menjadi berantakan.

Amelia Earhart sendiri tumbuh menjadi seorang gadis tomboy sampai menjelang kariernya sebagai penerbang wanita di usia dewasanya. Di usia Amelia Earhart yang berumur 10 tahun ketika itu dia diajak ayahnya Edwin, yang pada waktu itu berkerja sebagai seorang eksekutif di perusahaan kereta api, dia mendapat promosi dan dipindahkan ke Des Moines, Iowa. Di usianya yang 11 tahun, di Des Moines, Amelia Earhart pertama kali melihat sebuah pesawat terbang di pasar amal negara bagian Iowa.

Ayahnya mencoba untuk menarik ketertarikan Amelia Earhart dan adiknya dalam melakukan penerbangan, tetapi sama sekali tidak menarik mereka dan meminta agar mereka dapat kembali naik komidi putar. Ketika ayah dan ibunya menemukan rumah kecil di Des Moines, Amelia dan Muriel tetap tingga bersama kakek dan neneknya di Atchison. Sampai Amelia Earhart berumur 12 tahun, ia dan adiknya mengenyam pendidikan di rumah dari ibunya dan dari seorang guru.

Amelia Earhart nantinya menjelaskan kalau ia gemar membaca dan menghabiskan waktunya di perpustakaan keluarga. Pada tahun 1909, saat semua keluarganya berkumpul kembali di Des Moines, Amelia Earhart akhirnya masuk sekolah umum untuk pertama kalinya di kelas tujuh.

Meskipun keadaan keuangan keluarganya baik ketika adanya rumah baru dan mampu menyewa dua pelayan, tetapi ayah Amelia Earhart yaitu Edwin adalah seorang pecandu alkohol. Lima tahun kemudian tepatnya pada tahun 1914, Edwin pensiun. Meskipun Ayahnya mencoba merehabilitasi dirinya melalui perawatan, ia tidak pernah diterima kembali di Rock Island Railroad. Pada waktu itu juga, nenek Amelia, Amelia Otis meninggal mendadak. Rumah Otis dan isinya dilelang. Amelia patah hati dan nantinya menyatakan hal ini sebagai akhir dari masa kecilnya.

Setelah mencari perkerjaan yang lama, pada tahun 1915, ayah Amelia Earhart yaitu edwin mendapat pekerjaan sebagai juru tulis di Great Northern Railway di kota St. Paul, Minnesota dan Amelia kemudian memasuki SMU sebagai siswa junior. Edwin mencoba mendaftar agar dipindahkan ke Springfield, Missouri, pada tahun 1915, tetapi eksekutif di sana mempertimbangkan kembali pensiunnya lalu kembali bekerja, membuat Edwin tidak bisa pindah kemana-mana.

Amy Earhart membawa Amelia dan Muriel ke Chicago dan di sana mereka tinggal bersama temannya. Amy Earhart kemudian mengirim anak-anak gadisnya ke sekolah swasta dengan menggunakan uang dari dana yang didirikan oleh kakeknya, Alfred. Amelia masuk di SMU Hyde Park tetapi menghabiskan masa semester sekoah yang kurang menyenangkan. Amelia kemudian lulus dari SMU Hyde Park tahun 1916. Ia mempunyai cita-cita di masa depan.

Ia menyimpan sebuah buku tempel dari kliping koran tentang wanita yang sukses dalam bidang yang didominasi oleh pria, termasuk produksi dan direksi film, hukum, periklanan, manajemen dan teknik mekanik. Ia memulai kuliah awal di Ogontz di Rydal, Pennsylvania, tetapi tidak menyelesaikan programnya.
Perang Dunia I telah terjadi dan Amelia Earhart melihat tentara yang terluka yang kembali pulang. Setelah menerima pelatihan sebagai asisten perawat dari Palang Merah, ia memulai bekerja di Rumah Sakit Militer Spadina di Toronto, Ontario. Tugasnya termasuk menyiapkan makanan di dapur untuk pasien dengan diet spesial dan memberikan resep dokter di rumah sakit.

Pada tahun 1918, Ia mengalami infeksi sinus pada tahun itu. Hal ini terjadi sebelum antibiotika ada dan ia dibawah perawatan medis. Prosedur tidak berhasil dan Earhart menderita karena serangan sakit kepala yang tajam. Hal ini terus terjadi hampir setahun dan ia menghabiskan waktu di rumah saudaranya di Northampton, Massachusetts. Ia menghabiskan waktu dengan membaca puisi, belajar memainkan banjo dan belajar mekanik.

Pada tahun 1919, Amelia Earhart bersiap untuk mendaftar di Universitas Smith, tetapi ia mengubah pemikirannya dan mendaftar ke Universitas Columbia untuk belajar di persiapan kedokteran. Ia berhenti satu tahun kemudian agar dapat mendampingi orangtuanya yang kini sudah bersatu kembali di California.
Biografi Amelia EarhartDi Long Beach, Amelia Earhart dan ayahnya pergi ke sebuah lapangan udara. Di lapangan udara tersebut, Frank Hawks (yang nantinya terkenal sebagai pembalap udara) memberinya tumpangan yang selamanya mengubah kehidupan Amelia Earhart. Setelah ia terbang selama sepuluh menit, ia segera memutuskan untuk belajar terbang.

Ia bekerja sebagai fotografer, pengemudi truk, dan bekerja di perusahaan telepon lokal untuk mengumpulkan uang $1000 yang akan dipakai untuk pelajaran terbangnya. Amelia Earhart telah melakukan pelajaran penerbangan pertamanya yang dimulai pada tanggal 3 Januari 1921 di lapangan udara Kinner di dekat Long Beach. Tetapi untuk mencapai lapangan udara, Amelia Earhart harus naik bus sampai di garis akhir, lalu harus berjalan sejauh 4 mil. Gurunya adalah Anita Snook, seorang perintis perempuan penerbang yang menggunakan Curtiss JN-4 “Canuck” untuk pelatihan.

Enam bulan kemudian Amelia Earhart membeli sebuah pesawat bersayap ganda kuning Kinner Airster yang dinamainya “Canary.” Pada 22 Oktober 1922, ia menerbangkannya pada ketinggian 14.000 kaki, dan menciptakan rekor dunia perempuan. Pada 15 Mei 1923 Amelia Earhart menjadi perempuan ke-16 yang memperoleh izin pilot (nomor 6017) oleh Fédération Aéronautique Internationale (FAI).
Setelah penerbangan solo Charles Lindbergh melintasi Samudra Atlantik pada 1927, Amy Guest, seorang perempuan Amerika yang kaya yang tinggal di London, Inggris mengungkapkan minatnya untuk menjadi perempuan pertama yang terbang (atau diterbangkan) melintasi Samudra Atlantik.
Setelah menganggap perjalanan itu terlalu berbahaya untuk ditempuhnya sendiri, Amelia Earhart menawarkan untuk tetap mensponsori proyek itu, dan mengatakan bahwa mereka akan menemukan “gadis lain dengan citra yang tepat.”

Sementara di Inggris, Earhart menerbangkan Avro Avian 594 Avian III, SN: R3/AV/101 yang dimiliki oleh Lady Mary Heath. Amelia Earhart lalu membeli pesawat itu dan mengirimnya ke Amerika (di mana pesawat ini dirujuk sebagai “pesawat tak berizin nomor identifikasi” 7083). Ketika awak pesawat itu kembali ke Amerika Serikat, Amelia Earhart disambut dengan sebuah parade di New York dan resepsi oleh Presiden Calvin Coolidge di Gedung Putih.

Citra selebritinya membantu Amelia Earhart mendanai penerbangannya. Amelia Earhart menerima
Pada tahun 1929, Amelia Earhart adalah salah satu penerbang pertama yang mempromosikan penerbangan udara komersial melalui pembangunan sebuah layanan penerbangan jasa udara. Walaupun Amelia Earhart terkenal untuk penerbangan transatlantik, Amelia Earhart berusaha keras untuk membuat sebuah rekor “tak bernoda” untuk dirinya.

Segera setelah Amelia Earhart kembali setelah mengemudikan Avian 7083, ia akan melakukan penerbangan panjang sendirian. Pada bulan Agustus tahun 1928, Amelia Earhart menjadi wanita pertama yang terbang sendiri menyebrangi Amerika Utara dan kembali. Kemudian, Amelia Earhart melakukan usaha pertamanya dalam balapan udara tahun 1929 selama Balapan Udara Wanita Santa Monika-ke-Cleveland (nantinya Will Rogers mengubah nama balapan ini menjadi “Powder Puff Derby”), mendapat posisi ketiga.
Pada tahun 1930, Amelia Earhart menjadi anggota Asosiasi Aeronatik Nasional dan Amelia Earhart dengan aktif mempromosikan didirikannya rekor wanita yang terpisah dan berperan agar Fédération Aéronautique Internationale (FAI) menerima standar internasional yang mirip.

Pada tahun 1931, Amelia Earhart dengan menerbangkan Pitcairn PCA-2 otogiro, Amelia Earhart membuat rekor dunia dengan ketinggian 18.415 kaki (5613 m). Walaupun dari sudut pandang masa kini sepertinya Amelia Earhart sering melakukan stunt (kegiatan ekstrim yang aneh atau sulit untuk dilakukan), pada masanya hal ini dilakukan untuk membuat masyarakat Amerika Serikat lebih “berpikiran kepada udara” dan meyakinkan mereka bahwa “penerbangan tidak lagi terbatas pada para pemberani dan manusia super.”
Untuk sementara waktu Amelia Earhart bertunangan dengan Samuel Chapman, seorang ahli kimia dari Boston, namun mereka memutuskan pertunangan mereka pada tanggal 23 November 1928. Dalam masa yang sama, Amelia Earhart dan Putnam menghabiskan waktu bersama sehingga terjadi hubungan intim.
George Putnam, yang dikenal sebagai GP, bercerai pada tahun 1929 dan memohon untuk menikahi Amelia Earhart, meminta sampai berkali-kali sampai akhirnya Amelia setuju. Setelah keragu-raguan, mereka menikah pada tanggal 7 Februari 1931 di rumah ibu Putnam di Noank, Connecticut. Amelia Earhart merujuk kepada pernikahannya sebagai sebuah bentuk “kemitraan” dengan “kontrol ganda”.

Dalam surat yang ia tulis kepada Putnam dan diserahkan langsung kepadanya pada saat pernikahan, ia menulis, “Aku mau kamu mengerti aku tidak akan menahanmu menurut hukum kesetiaan dari Abad Pertengahan apapun untukku, begitu juga akupun tak menganggap diriku terikat padamu.

Biografi Amelia EarhartPada usia 34 tahun, pada pagi hari tanggal 20 Mei 1932, Amelia Earhart berangkat dari Pelabuhan Grace, Newfoundland. Ia mencoba untuk terbang ke Paris dengan mengemudikan Lockheed Vega, mengikuti penerbangan solo Charles Lindbergh. Setelah terbang dalam waktu 14 jam, 56 menit dengan angin utara yang kuat, kondisi yang dingin dan tidak ramah dan masalah mekanis, Earhart mendarat di padang rumput di Culmore, utara dari Derry, Irlandia Utara. Ia menerima Distinguished Flying Cross dari Kongres Amerika Serikat, mendali ksatria dari pemerintah Perancis dan medali emas National Geographic Society dari presiden Herbert Hoover.

Amelia Earhart hilang secara misterius di samudera Pasifik di dekat pulau Howland pada tahun 1937 dalam usaha untuk melakukan penerbangan keliling dunia. Pada Tahun 1939 Amelia Earhart dinyatakan tewas meskipun belum ditemukan jasad maupun bangkai dari pesawatnya. Ketertarikan mengenai hidup, karier, dan misteri hilangnya Earhart masih tetap berlanjut sampai sekarang.

Selama beberapa dasawarsa sejak hilangnya Earhart telah banyak desas-desus dan legenda yang beredar (dan seringkali diterbitkan) tentang apa yang mungkin telah terjadi pada peristiwa menghilangnya Earhart. Pada bulan November tahun 2006, National Geographic Channel menyiarkan episode dua dari serial televisi Undiscovered History tentang klaim bahwa Amelia Earhart selamat dari penerbangan dunia, kembali ke Amerika Serikat, pindah ke New Jersey dan di sana ia mengganti namanya dan menjalani hidupnya diam-diam sebagai Irene Craigmile Bolam.

Klaim ini pada awalnya diangkat oleh buku Amelia Earhart Lives (1970) yang ditulis oleh Joe Klaas. Irene Craigmile Bolam yang menjadi bankir di New York selama tahun 1940an, menolak pernyataan bahwa ia adalah Earhart dan melakukan penuntutan perkara, meminta $1.5 juta dan membuat sebuah pernyataan tertulis yang sah dan ia menyangkal klaim tersebut.

Penerbit buku Amelia Earhart Lives, McGraw-Hill, menarik buku dari pasar segera setelah dirilisnya dan pengadilan mengindikasi bahwa mereka melakukan penyelesaian dengan Irene Craigmile Bolam di luar pengadilan. Sesudah itu, sejarah kehidupan personal Bolam didokumentasi oleh peneliti, menghilangkan kemungkinan ia adalah Earhart. Kevin Richland, seorang ahli forensik kriminal disewa oleh National Geographic, mempelajari foto Earhart dan Bolam dan menyatakan beberapa perbedaan antara Earhart dan Bolam.

(Sumber Berita : Mbah Google..)